Advertidement
Iklan
Hubungan cinta Chatrina Wiedyawati alias Wiwit (30) dengan Martinus Asworo (33) berujung tragis. Asworo membunuh Wiwit secara keji awal Mei lalu. Seharusnya mereka menikah pada September 2017 mendatang.
Di akun Facebooknya, Wiwit mengunggah status berpacaran dengan Asworo tanggal 13 April 2016 lalu.
Perkenalan keduanya diawali saat mereka beribadah di gereja yang sama. Wiwit awalnya dijodohkan kawannya pada pria lain. Namun rupanya Wiwit tak cocok. Dia lebih memilih Asworo.
Selama dua tahun itu, sudah ada beberapa keanehan sikap Asworo. Namun Wiwit agaknya menutupinya dari pihak keluarga. Semua mengira hubungan kedua insan ini baik-baik saja.
Beberapa fakta yang kini terungkap adalah soal materi. Selama ini Wiwitlah yang membiayai hubungan mereka sekaligus kehidupan Asworo. Wiwit yang lulusan Magister UGM ini bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor di Prabumulih, Sumatera Selatan.
Sementara Asworo bekerja sebagai tukang foto copy di SMA Xaverius I Palembang. Asworo pun tinggal di mess karyawan sekolah tersebut.
Asworo dikenal pendiam dan tidak banyak bergaul. Sementara Wiwit memiliki pribadi yang hangat dan memiliki banyak teman.
Selama pacaran, biasanya Asmoro mengunjungi Wiwit ke Prabumulih saat akhir pekan. Baru terungkap, keduanya pun sering bertengkar. Macam-macam sebabnya.
"Sebulan dua kali ketemu, tapi sering berantem. Ada gara-gara libur Natal atau apa gitu," ujar Asmoro di Mapolda Sumsel.
Masalah biaya pernikahan mereka pun, sepenuhnya hampir menjadi tanggungan Wiwit dan keluarganya. Asmoro mengaku hanya membantu sekadarnya saja. Gedung dan perlengkapan nikah lain, orang tua Wiwit yang membayar.
Soal materi ini pula yang kemudian menjadi alasan Asworo menghabisi Wiwit.
Dia menceritakan, pada 6 Mei 2017, dirinya menjemput Wiwit di Prabumulih dengan alasan mengajak pre wedding dan membeli souvenir pernikahan di Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju Palembang, Asworo kaget ditanya Wiwit berapa banyak tabungan untuk pernikahan mereka.
Saat itu Wiwit mengaku sedang tidak punya uang. Asworo pun kesal karena selama ini dirinya mengandalkan Wiwit untuk memenuhi seluruh kebutuhan persiapan pernikahan, termasuk pre wedding.
"Saya kira dia (korban) punya uang, tapi tidak punya juga, makanya saya bingung," ujarnya.
Setiba di Palembang, Asworo mengajak korban menginap di Hotel Azzah di Jalan Angkatan 45 Palembang. Dia awalnya ingin ikut menginap tetapi memilih kembali ke mess tempatnya bekerja.
Keesokan harinya pada tanggal 7 Mei 2017 pukul 05.00 WIB, Asworo menjemput korban di hotel dengan mobil sewaan. Mereka menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang untuk terbang ke Yogyakarta, namun tiket belum dipesan.
Ternyata, di dalam mobil mereka kembali cekcok mulut. Lagi-lagi masalahnya karena biaya nikah. Asworo dibuat emosi karena korban menuntutnya mempersiapkan seluruh biaya pernikahan.
Cekcok mulut akhirnya berujung pembunuhan. Asworo menonjok wajah korban dan memukuli korban dengan kunci setir berkali-kali. Saat sekarat, korban dibuang ke semak-semak.
"Saya emosi dibuat begitu, karena tadinya semua biaya ditanggung dia (korban). Ini saya yang disuruh juga," terangnya.
Diketahui saat itu Wiwit sempat mengingatkan Asworo dengan menyebut nama Romo mereka. Namun pria itu tak peduli dan terus memukuli Wiwit.
Usai membunuh, tersangka memeloroti seluruh harta benda korban, salah satunya ATM berisi uang Rp 7 juga. Malam harinya, tersangka menyerahkan mobil sewaan yang telah dicuci terlebih dahulu.
Tanggal 8, tersangka pergi ke Indralaya, Ogan Ilir, dengan tujuan menjual sepeda motornya. Lalu, dia berangkat ke Lampung dengan menumpang mobil travel.
Selama di Lampung, Asworo sempat menginap di hotel berbintang dan pindah ke beberapa tempat lain. Akhirnya, dia tertangkap di tempat persembunyian terakhir.
Kini Asworo terancam hukuman mati. Wiwit mungkin tak menyangka lelaki yang dikenalnya di gereja akan setega itu.
Sumber : Merdeka.com
Di akun Facebooknya, Wiwit mengunggah status berpacaran dengan Asworo tanggal 13 April 2016 lalu.
Perkenalan keduanya diawali saat mereka beribadah di gereja yang sama. Wiwit awalnya dijodohkan kawannya pada pria lain. Namun rupanya Wiwit tak cocok. Dia lebih memilih Asworo.
Selama dua tahun itu, sudah ada beberapa keanehan sikap Asworo. Namun Wiwit agaknya menutupinya dari pihak keluarga. Semua mengira hubungan kedua insan ini baik-baik saja.
Beberapa fakta yang kini terungkap adalah soal materi. Selama ini Wiwitlah yang membiayai hubungan mereka sekaligus kehidupan Asworo. Wiwit yang lulusan Magister UGM ini bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor di Prabumulih, Sumatera Selatan.
Sementara Asworo bekerja sebagai tukang foto copy di SMA Xaverius I Palembang. Asworo pun tinggal di mess karyawan sekolah tersebut.
Asworo dikenal pendiam dan tidak banyak bergaul. Sementara Wiwit memiliki pribadi yang hangat dan memiliki banyak teman.
Selama pacaran, biasanya Asmoro mengunjungi Wiwit ke Prabumulih saat akhir pekan. Baru terungkap, keduanya pun sering bertengkar. Macam-macam sebabnya.
"Sebulan dua kali ketemu, tapi sering berantem. Ada gara-gara libur Natal atau apa gitu," ujar Asmoro di Mapolda Sumsel.
Masalah biaya pernikahan mereka pun, sepenuhnya hampir menjadi tanggungan Wiwit dan keluarganya. Asmoro mengaku hanya membantu sekadarnya saja. Gedung dan perlengkapan nikah lain, orang tua Wiwit yang membayar.
Soal materi ini pula yang kemudian menjadi alasan Asworo menghabisi Wiwit.
Dia menceritakan, pada 6 Mei 2017, dirinya menjemput Wiwit di Prabumulih dengan alasan mengajak pre wedding dan membeli souvenir pernikahan di Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju Palembang, Asworo kaget ditanya Wiwit berapa banyak tabungan untuk pernikahan mereka.
Saat itu Wiwit mengaku sedang tidak punya uang. Asworo pun kesal karena selama ini dirinya mengandalkan Wiwit untuk memenuhi seluruh kebutuhan persiapan pernikahan, termasuk pre wedding.
"Saya kira dia (korban) punya uang, tapi tidak punya juga, makanya saya bingung," ujarnya.
Setiba di Palembang, Asworo mengajak korban menginap di Hotel Azzah di Jalan Angkatan 45 Palembang. Dia awalnya ingin ikut menginap tetapi memilih kembali ke mess tempatnya bekerja.
Keesokan harinya pada tanggal 7 Mei 2017 pukul 05.00 WIB, Asworo menjemput korban di hotel dengan mobil sewaan. Mereka menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang untuk terbang ke Yogyakarta, namun tiket belum dipesan.
Ternyata, di dalam mobil mereka kembali cekcok mulut. Lagi-lagi masalahnya karena biaya nikah. Asworo dibuat emosi karena korban menuntutnya mempersiapkan seluruh biaya pernikahan.
Cekcok mulut akhirnya berujung pembunuhan. Asworo menonjok wajah korban dan memukuli korban dengan kunci setir berkali-kali. Saat sekarat, korban dibuang ke semak-semak.
"Saya emosi dibuat begitu, karena tadinya semua biaya ditanggung dia (korban). Ini saya yang disuruh juga," terangnya.
Diketahui saat itu Wiwit sempat mengingatkan Asworo dengan menyebut nama Romo mereka. Namun pria itu tak peduli dan terus memukuli Wiwit.
Usai membunuh, tersangka memeloroti seluruh harta benda korban, salah satunya ATM berisi uang Rp 7 juga. Malam harinya, tersangka menyerahkan mobil sewaan yang telah dicuci terlebih dahulu.
Tanggal 8, tersangka pergi ke Indralaya, Ogan Ilir, dengan tujuan menjual sepeda motornya. Lalu, dia berangkat ke Lampung dengan menumpang mobil travel.
Selama di Lampung, Asworo sempat menginap di hotel berbintang dan pindah ke beberapa tempat lain. Akhirnya, dia tertangkap di tempat persembunyian terakhir.
Kini Asworo terancam hukuman mati. Wiwit mungkin tak menyangka lelaki yang dikenalnya di gereja akan setega itu.
Sumber : Merdeka.com
Advertidement
Iklan2

No comments : Jadilah Yang Pertama Menulis Komentar Di Artikel Ini
Post a Comment